Rabu, 16 September 2020

NEKAT

 

yang benar yang mana?

[16.9.20]
        Bukan mencari penggunaan yang benar yang mana, yang pasti menurut KBBI kata yang tepat adala NEKAT. Besok, 17 September 2020 saya akan mencoba nekat menemui dosen pembimbing I ke kampus. Kita sepakati saja namanya Pak B yang entah kenapa sangat sulit mendapat balasan chat dari beliau apalagi setelah muncul edaran Rektor yang mengharuskan para dosen untuk mengajar dari rumah selama pandemi. Tidak terlalu masalah untuk mahasiswa yang masih ambil kelas pelajaran biasa, namun menjadi masalah untuk para mahasiswa akhir. Tidak mudah berkomunikasi daring dari proses penyusunan draft pertama kali proposal usulan penelitian. Masalah besarnya penelitian tidak akan mulai kalau proposal belum ACC sementara persepsi saya dan Pak B belum menemukan titik tengah. Kemarin muncul notif email masuk dari beliau, pkl. 00.13 "draft UP" judulnya, Puji Tuhan. Tidak mau deg-deg dan berujung sulit tidur jadi bakal buka siang nanti. Ini adalah revisi draft ke 3 dan sepertinya belum akan di-ACC. Semoga besok ketemu! 

[17.9.20] 
        Rencana mencoba cari Pak B pagi-pagi kandas karena lagi-lagi telat bangun. Jalan ke kampus sekitar pkl. 13.00 dan dari pantauan mobil dosen yang berderet di parkiran gedung B mobil beliau berciri Avanza putih dengan sticker singa dan plat H xxxx RR tidak termasuk dalam deretannya. "Hufff (1)". Biasanya beliau nongkrong di ruangan Admin Agro, sedikit melongo meraih pandangan jauh ke jendela, beliau juga tidak tampak. Opsi kedua, mencoba mencari ke dekanat FPP. Belum persis menapaki parkiran kuurungkan melanjut, lagi-lagi mobil Avanza putih sasaran tidak muncul selain 2 mobil kecil warna merah dan putih (bukan Avanza). "Hufff (2)". Balik kiri. Kemungkinan lain, beliau naik motor. Langsung jalan kembali ke gedung B menuju ruangan Pak Admin Agro yang ternyata kosong. Memutuskan menunggu 10 menitan lalu atas saran teman se-perdosbingan-an kembali saja besok lagi dengan misi sama-sama buat janji dulu ketemu beliau. Besok, [18.9.20], semoga ketemu..
Ta, Ta, semangat Ta!!!!!

[19.10.20]
            Memang benar yang selalu kita ingin bahkan kita rencanakan belum berarti selalu harus terjadi. Entah harus senang atau sedih karena (akhirnya?) Pak B meng-ACC Usulan Penelitian setelah 4 bulan. Minggu sebelumnya sekalian kirim draft revisian UP ke-4 bersamaan mencoba kirim judul UP yang baru, dengan tema yang sama sekali berbeda dengan judul sempro. Total ini jadi judul ketiga yang coba diusulkan, pasrah, pasrah.

Hmmm rupanya menjalankan judul ke 2 atau pun ke 3 sama-sama punya konsekuensi tersendiri.
1. Judul 2 (tema biopestisida nabati untuk hama;tanaman kailan) 
Secara waktu lebih singkat, waktu hingga panen sayur kailan sampai 35 hari, ditambah olah lahan mungkin sekitar 2 bulan total waktu penelitian. Tapi agak-agak khawatir bermasalah di teknis pelaksanaan penelitian, lebih rumit karena pakai rancangan acak kelompok faktorial. Pusing pusing da tuh

2. Judul 3 (tema pemupukan silika dengan volume penyiraman berbeda;tanaman kacang tanah)
Waktu tanam hingga panen kacang tanah 90 hari, ditambah persiapan bla-bla mungkin total waktu penelitian sekitar 3,5-4 bulan. Lebih lama, tapi dengan rancangan yang lebih sederhana, pake polybag di dalam GH harusnya ngga rumit-rumit amat. Plus yang buat greget musti seminar ulang! GOD, kek mananya ini,,, aigoo udah lah makin panjang lagi masa tunggu lulus awak kan, hmmm.

Hingga akhirnya beraniin diri konsul ke Bu Star, sa;ah satu dosen muda Agro, dosen baru yang fokus ilmunya di bidang hama. Sebenernya udah dari tahun lalu Pak B nyaranin datengin Bu Star ini untuk tanya-tanya lebih lanjut, yaahh maafkan kemalasan saya Pak, heheeee. Bu Star kasih banyak banget masukan yang sangat sangaaaat sangatttttt berarti dan entah konspirasi semesta bekerja seperti apa (sorry hiperbola sorry) ada Pak B juga di sanaaaa. Ya ampuuuun, gitu ya, kalo dicari seringnya ngga nemu.

Alhasil beliau bahkan 'nitip'-in anak bimbingnya ini ke Bu Star biar dikasih pencerahan. Abis konsul, laporan beberapa hal yang didapat dari Bu Star ke Pak B dan ya Puji Tuhan akhirnya cukup yakin untuk ambil penelitian dari judul ke 2 aja.

[10.11.20]
Apakah per tanggal hari ini penelitian udah dimulai? Belum!
Tapi tetap ada hal yang patut disyukuri, setelah ACC dosbing 1, selanjutnya ACC harus didapat juga dari dosbing 2. Okelah prinsip umumnya dosbing 2 ngikut dosbing 1 aja, maksudnya ngga akan banyak perubahan berarti dan penelitian bisa segera jalan.

Masalah baru muncul lagi, dimana lokasi penelitan nanti? Yang pasti pilihan ada di antara lahan Agroecotechnopark atau lahan depan LPPU, kalo hanya sekadar pengen, pengen banget dapet di Agroecotechnopark. Pertimbangannya karena dekat kosan, sumber air juga bagus dan dekat dengan keramaian. Berbanding terbalik dengan lahan di depan LPPU, survei minggu lalu udah cukup buat berharap banget ngga penelitian di lokasi sana. Bukan cuma kaena jauh dan letaknya masuk-masuk ke dalem belukar tapi harus siap berperang dengan nyamuk. Heeee pernah ngga sih eksperimen julurin tangan 5 menit terus langsung aja nyamuk-nyamuk nyerbu. Iya perpsis kaya begitu.

Mencoba memberanikan diri lagi, mengingatkan dosbing 2 tercinta untuk menengok draft UP yang udah seminggu + 1 hari belum muncul di inbox email. "Ya", huhuiii dibales akhirnya, 2 karakter yang sangat bermakna. Mumpung beliau masih terpantau online, coba aja lagi nanyain lahan di Agroecotechnopark, karena aslinya lahan inceran juga masih akan dipakai beliau Januari 2021 nanti.

Seni menyusun kata untuk mendapatkan yang dimau dimulai. Awalnya beliau kasih respon yang ambigu, bukan tidak tapi iya juga bukan. Chat lagi buat memastikan, lalu dijawa lagi "Ya". Kali ini "Ya" yang artinya fix diizinin pake lahan bekas penelitian beliau. Aaaaaa makasih banyak Prof! Terima kasih Tuhan!!!!

Minggu, 06 September 2020

Menemukan yang Aku-Kamu Suka

Mau Jadi Apa?

...............

        Waktu kecil pertanyaan wajib yang dilontarkan orang dewasa kepada kita adalah : "kalau udah besar kamu mau jadi apa?" atau "kamu cita-citanya apa?" Waktu kecil kita mudah sekali menjawab semudah ditanya pilihan mau es krim apa coklat dan entah kenapa sepanjang waktu berjalan cita-cita itu jadi sesuatu yang abstrak. Ngga semua orang sih, nyatanya ada juga yang berhasil ingat, menjaga dan mengupayakan cita-cita masa kecilnya lalu berhasil dicapai ketika dewasa. Atau mungkin ada yang lebih banyak lagi yang sebaliknya, termasuk aku. Dari kecil sangat sangat ingin jadi guru, lalu menjelang SMA berganti haluan menjadi pengusaha kopi-alasan utama akhirnya memilih jurusan pertanian di bangku perkuliahan. Masalahnya hari ini diri ini ragu dengan cita-cita tersebut, dipicu banyak khawatir juga dengan kekhawatiran-kekhawatiran lain makin tambahlah bingung besok mau jadi apa.

Kilas balik lagi nanya ke diri sendiri apa yang disuka, apa yang sekiranya bisa dicoba dan diupayakan. Apa iya alasan dulu masuk Pertanian sama sekali ngga bisa diupayakan? Entahlah.....

Yang jelas saat ini aku udah punya cita-cita lain, jadi Editor Buku. Setidaknya setelah lulus S1 ini aku pastikan bakal mendaftar ke perusahaan penerbit terbesar di Indonesia, Gramedia. Menurut kualifikasi salah satunya calon pelamar bisa berasal dari segala jurusan dan yang utama berkeinginan keras bekerja dan mencintai buku. Hoaaaa I love that :)

Sebenarnya termasuk telat buat menyadari "salah jurusan" setelah jalanin 4 tahun kuliah di Pertanian, tapi yang pasti ngga akan pernah ada kata terlambat untuk buat impian, upgrade impian maupun remove impian sebelumnya lalu temukan impian lain yang baru. Apakah menyesal udah sejauh ini mendalami Pertanian tapi bercita-cita di luar bidangnya? Awalnya iya, tapi setelah dipikir lagi bukan merasa "menyesal"nya yang penting tapi nilai-nilai apa yang udah didapat selama kuliah di Pertanian, bahkan mungkin relevan juga di bidang lain. Nilai-nilai bermanfaat yang didapat selama belajar Pertanian misalnya, kesabaran, tekad, jalin relasi dan komunikasi, dan yang pasti selalu berpikir kritis lewat langkah-langkah ilmiah. Jabarannya ini:

-Kesabaran, sabar menunggu dan merawat tanaman tumbuh. Sabar yang lain misalnya menunggu balasan asisten praktikum dan sabar draft belasan kali hingga laporan di-ACC.
-Tekad, dulu waktu masa-masa "budak laprak" udah pasti harus dapat sitasi dari jurnal. Mau materinya gampang atau susah ngga ada alasan ngga nemu sitasi, apa pun dilakukan demi sitasi. LOL.
-Relasi dan komunikasi, pengerjaan laporan praktikum dilakukan berkelompok di hampir semua mata kuliah. Relasi yang baik antar anggota kelompok wajib dijaga kalo ngga mau sikut-sikutan (minimal diem-dieman dalam kelompok) dan berujung laporan terhambat. Selain itu akan ada giliran salah satu dari anggota yang jadi penghubung untuk kontak asisten. Asisten adalah segalanya setelah dosen jadi jalin dan cara komunikasinya harus baik.
-Berpikir kritis lewat langkah-langkah ilmiah, yang pasti karena dasar ilmu Pertanian adalah Sains jadi apapun harus dicari dulu kerangka berpikir dan metode ilmiahnya gimana. Ngomong A ditambah data begitu seterusnya. Lucu sih kalo pas ngumpul bareng teman-teman terus nyeletuk "halahh kata siapa?" terus dijawab asal sama teman yang lain "menurut Bambang et al. 2018 bla bla" HAHAHAHAA


Menurut penelusuran Tirto (https://tirto.id/quarter-life-crisis-kehidupan-dewasa-datang-krisis-pun-menghadang-dkvU) anak-anak muda beralih pekerjaan atau pun impiannya bukan karena mereka ga mampu berkomitmen, tapi komitmen merekalah yang berbeda dengan tujuan mencari makna hidup, mengejar kebahagiaan dan bentuk dari kebebasan.

Simpulannya sementara ini memilih untuk tidak banyak khawatir tentang hari esok, karena hari esok masih punya kekhawatirannya sendiri sambil mengupayakan jalan-jalan kecil untuk menuju impian, apa pun bentuk impian itu nanti.

**Impian terdekat: LULUS, KERJA, PULANG BENTAR

Kucinta Kau, Dia dan Widya Puraya



Widya Puraya, semacam ikon Universitas Diponegoro Semarang. Belum tau persis sih merujuk spesifik apa (pardon me yg udah 4,1 tahun kuliah di sana), yang pasti WP-singkatnya begitu bisa merujuk lapangan besar tempat adain acara-acara besar, gedung-gedung tempat para petinggi Undip bertugas dan yang paling sering dikunjungi mahasiswa Undip tentunya Perpustakaan Widya Puraya/Perpus WP. Acara-acara besar yang diadain di lapangan WP contohnya Upacara Hari-Hari Besar, Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru, Upacara Pelepasan dan Penerimaan Kembali Mahasiswa KKN atau kadang dipakai mahasiswa untuk kegiatan orientasi kemahasiswaan misal LKMM-PD/D/Madya atau sekadar foto angkatan. Atau yang akhir-akhir ini lagi trend foto sidang akhir maupun wisuda di Taman Inspirasi yang langsung membelakangi Lapangan Widya Puraya. Gedung sekitar WP di antaranya Rektorat, Hall, Kesejahteraan Mahasiswa dan lain-lain.


WP sejauh dari pengalaman pribadi sejak pertama kali, kala 2016 lalu hingga 2020 ini mengalami perubahan tentunya ke tujuan yang lebih baik. Dulu sih ngga ada batasan nongkrong di WP  baik perpustkaan maupun di Taman Inspirasi. Tapi semua berubah sejak sekitar tahun 2018 pengawasan jam malam oleh satpam sangat ketat, bahkan belum tepat jam malam (21.00 WIB) udah keliling-keliling tuh sambil nyamperin suruh mahasiswa siap-siap pulang :(. Ini beberapa hal yang bisa dibagi seputar WP, salah satu tempat favorit  di Undip :

  1. PERPUSTAKAAN WP
Ll. 1 (Lobby)

Perpustakaan WP terdiri dari 5 lantai. Lantai 1 tempat registrasi masuk, alurnya kita scan KTM atau masukkan NIM ke komputer baru setelah ada suara "silahkan masuk" kita masuk. Kalau mau pinjam atau kembalikan buku atau mampir perpustakaan maka wajib minta kunci loker dulu. Lantai 1 juga ada perpustakaan kecil dipojok kiri dari pintu samping lift namanya Pojok BNI, ada juga ruang pertemuan di tengah dan sisi kiri ada Pojok Sampoerna tempat buat ngerjain tugas dan lain-lain yang juga nyaman. Kalau mau agak berisik lebih baik nongkrongnya di lobby, di luar tersedia kursi-kursi dan meja, lebih bebas ngobrol dan ga perlu simpan barang-barang pribadi di loker, sementara di ruangan mana pun di dalam pasti ga diizinin berisik maupun agak berisik wkwkkw.


Lt. 2 Perpustakaan Utama

Lantai 2 tempat kita bisa membaca, meminjam dan mengembalikan buku-buku. Barang yang wajib dibawa adalah KTM dan barang-barang opsional misalnya laptop (tanpa sarung, charger boleh), kertas binder tanpa cover, HP dan dompet. Selain itu dilarang karena dikhawatirkan bisa jadi wadah buat bawa buku tanpa izin. Buku yang mau dicari bisa terbantu dengan terlebih dahulu cari di komputer, nanti dapat kode lokasi rak, baris dan buku yang kita maksud. Peletakan buku-buku secara singkat bisa dilihat dari pintu masuk, sisi kiri ditempati rak-rak berisi buku tema sosial, tengah bertema sains dan sisi kanan sains, novel, dan bahasa. Selain menyediakan banyak jenis buku di WP disediakan komputer yang bisa digunakan untuk browsing, ngerjain tugas, dll. Yang paling bikin betah adalah beragam tempat duduk yang bisa dipilih sesuai nyamannya kita. Ada meja panjang dengan kursi atau lesehan juga bisa atau kalau lebih nyaman di meja dengan kursi sendirian juga ada. Mau yang menghadap matahari ada, dikelilingi orang-orang ada, atau buat me time sendiri di pojok juga ada.

Alur pinjem buku, pertama cek kertas kuning di belakang buku lalu isi sesuai yang diminta biasanya nama dan NIM. Kertas kuning yang perlu diisi ada dua, lalu serahin ke petugas untuk dicek dan KTM kita discan, terus nanti satu kartu kuning bakal dikeep petugas dan satu lagi di kita peminjam. Terakhir gesek buku. Maksimal waktu peminjaman 2 minggu, lebih dari itu bakal kena denda Rp1.000 per hari (hari Sabtu, Minggu dan tanggal merah ga terhitung). Saya pernah didenda sampai Rp 70.000-an karena lupa kembaliin 2 buku dan waktu kembalikan mepet libur semester waktu itu udah ninggalin Semarang sementara waktu libur WP paling cuma seminggu.

Bagusnya, perpus WP punya waktu libur lebih sedikit dibanding waktu akademik bahkan tanggal 1 Januari juga masuk jadi kalo butuh main ke Perpus WP bisa banget dateng.

Lantai 3 berisi koleksi jurnal-jurnal yang cuma boleh dibaca di tempat karena jumlahnya sangat terbatas, sementara lantai 4 berisi koleksi koran-koran, majalah dan buku-buku terbatas lainnya. lantai 5 ngga ada apa-apa sih. Lumayan gelap dengan ruang-ruang kosong dan balkon kecil menghadap bebas ke lapangan WP dan di sampingnya bersebelahan dengan pekarangan dengan pohon-pohon tinggi.

    2.  JALAN MENUJU WP DAN LOKASI GEDUNG-GEDUNG TERKAIT

Jalan menuju WP sebelum tahun 20
19 masih tanpa petunjuk jalan buat disabilitas semisal penyandang tunanetra. Bagus sih konsepnya untuk membantu difabel tapi sayangnya masih ada evaluasi terutama karena jalan dengan petunjuk masih terbatas ke beberapa fakultas dan bahkan belum ada petunjuk penuh dari arah masuk WP semisal menuju perpustakaan WP. Banyak titik-titik yang terputus padahal seharusnya jalan petunjuk idealnya dibuat jelas sampai ke lokasi-lokasi tujuan. Semoga ke depan ada perbaikan :).

Yang baru lagi ada videotron dan Taman Inspirasi. Videotron ditempatkan persis di lapangan Widya Puraya, dan videotron selain di WP ada juga di pintu utama jalan masuk kawasan kampus. Dibanding pakai banner yang lebih ramah lingkungan mana sih? Kayanya butuh daya yang lebih besar deh buat videotron hmmm. Taman Inspirasi ini bentuknya melingkar berundak-undak dan sering dipakai buat kumpul-kumpul, diskusi atau sebagai pangggung kecil buat pementasan atau acara-acara kemahasiswaan lainnya. Buat jogging juga bisa. Sayangnya ga punya fotonya. Next ditambahin dehh

Selama pandemi ini WP dibatasi cuma bisa stay di lantai 1 itu pun cuma bisa duduk di tengah karena Pojok BNI dan Pojok Sampoerna belum bisa dikunjungi. Semoga keadaan segera membaik yaaa.

Jadi, siapa yang aku cinta? kau, dia atau siapa? Ya Widya Puraya HAHAHHA 

Senin, 17 Agustus 2020

BRT (Bus Rapid Transit) Semarang dan Per-Nyasarannya


MERDEKA!!!! Hari ini Indonesia memperingati hari bersejarah istimewanya, HUT RI ke 75. Tapi ngga ada korelasi langsung sebenarnya antara Hari Merdeka dengan BRT hehehee. Kecuali mau dibuat-buat, semoga transportasi umum yang layak, nyaman dan memudahkan aktivitas masyarakat semakin banyak dan tanpa henti berinovasi untuk semakin baik.

Ini adalah kumpulan pengalaman pribadi sebagai pengguna transportasi yang umum di Semarang yaitu BRT Trans Semarang. Sejak awal berkuliah di Semarang udah tahu sekilas tentang BRT dan tahun 2017 akhirnya coba sendiri ke Semarang bawah dengan BRT yang punya ciri khas warna merah ini (pernah biru juga ding). Moda trasnportasi umum di kota Semarang cukup beragam seperti angkot, ojek, bus, travel dan yang masih sangat dapat diandalkan untuk berkeliling Semarang adalah BRT. BRT sendiri beroperasi hanya antar kota Semarang dan sebagian daerah Kabupaten Semarang (Ungaran). Saudara sesama moda trasnportasi umum yang lain adalah Trans Jateng. 

Kemajuan teknologi ga memungkiri membuat pilihan transportasi juga bergeser bahkan nyaris menghilangkan salah satu dari transportasi umum tadi. Masih ingat jelas awal-awal kuliah angkot Kuning dan Merah adalah transportasi wajib hampir ke semua lokasi-lokasi penting misal ke kampus, belanja ke ADA Swalayan, ke gereja Karangpanas dan kadang-kadang ojek pengkolan. Sekarang angkot dan ojek pengkolan mau ga mau ditinggalkan karena pilihan lebih efisien dengan ojek online. BRT dan Trans Jateng ternyata masih bertahan dan bisa dibilang hampir ngga terlalu bepengaruh. Patut dibanggakan juga adalah Kota Semarang menerima penghargaan dari Kemendagri dalam inovasi trasnportasi umum pada 22 Juni 2020 lalu. Lalu apa yang membuat BRT jadi salah satu pendukung keberhasilan tersebut? Beberapa pengalaman ini bisa jadi jawabannya.


1. Pertama kali naik BRT tujuan Gramedia Balai Kota, main ke Mall Paragon
    Sebagai penumpang kita diberikan pilihan dan kemudahan dalam membayar tiket. Khusus pelajar dana mahasiswa cukup bayar Rp1000-, iya serebu perakkk dan buat karyawan sama lansia bisa bayar Rp2000,- dengan menunjukkan KTM/KTPelajar (pelajar dan mahasisawa), Kartu BPJS (karyawan) dan KTP (lansia). Ini cuma berlaku hari kerja Senin-Sabtu aja karena hari Minggu dan tanggal merah tarifnya normal jadi Rp3.500,-.

Kemudahan lain yaitu kita bisa bayar cash atau pake kartu BRT yang sebelumnya udah diisi saldo dan sebagai pengguna BRT hampir 3 tahun ini BRT bertumbuh seiring perkembangan zaman semisal bayar cashless dengan OVO atau Gopay. Perubahan lain yaitu penggunaan tiket BRT dari yang semula kertas buram warna abu-abu kemerahan, putih dan hijau desain seadanya (warna tiket berbeda tergantung tujuan) hingga tiket sekarang lebih sederhana dengan warna putih bergambar wajah wali kota (agak angkat alis yaaa, what is it for? Campaign?)

Perlu diperhatikan kalau jalur BRT itu jarang ada yang langsung ke tujuan jadi harus transit sekali atau lebih. Misal tujuan Gramedia Balai Kota maka dari halte Polines naik arah BRT Unnes >> transit Kagok >> naik arah Terboyo >> turun di halte Balai Kota. Tingga jalan sedikit di sebelah halte terletak Gramedia Balaikota di dalam Hote Amaris sementara Mall Paragon letaknya ga jauh dari halte cukup jalan sekitar 30 meter.

2. Nyasar (masih berupaya mengingat)
    Hampir ga kehitung berapa kali nyasar selama naik BRT tapi untuk pengalaman pertama pas bablas sampai terminal Terboyo. Kejadiannya hari Minggu abis pulang Misa, awalnya cuma pengen sampe Balai Kota tapi ketiduran dan bangun-bangun udah ga tahu dimana LOL. Makin lama makin sedikit penumpang dan mas ticketing nanyain mau turun di mana, dengan PD jawab, "saya di halte terakhir aja mas, mau jalan-jalan hehhehe" padahal mah malu aja bilang nyasar wkwkwkwk. Tips kalo nyasar, segera turun dan naik bus lagi karena walaupun bus yang sama dengan kita pergi akan muter arah sebaliknya dan ke tujuan awal lagi penumpang wajib bayar lagi. Wajib selalu bertanya ke petugas semisal mau ke daerah yang belum pernah didatengin sebelumnya karena mereka bakal kasih tahu rutenya. Sepengalaman pribadi para petugas ticketing dan supir profesional dan ramah. Pengalaman dijutekin mbak petugas pernah bahkan dimodusin+dimintain nomor telepon juga pernah HAHAHHA.

Baru-baru ini menyaksikan sisi lain dari petugas BRT terkait pendisiplinan para penumpang di masa pandemi Covid-19. Ga terkecuali BRT harus menyesuaikan operasional dengan protokol kesehatan semisal jarak aman antar penumpang dengan kelang-kelang kursi dibongkar maupun holder. Pemicu masalah adalah ketidaksabaran penumpang yang memaksakan diri masuk padahal udah dibatasi oleh petugas. Petugas langsung emosi dan marah-marah, ga tanggung-tanggung yang dimarahi ibu-ibu tua dan bapak-bapak ya dukung mbaknya sih karena buat kebaikan juga. Duh semoga selalu disiplin ya kita----

Nyasar berikutnya adalah waktu jadi penanggung jawab salah satu event masak di kampus dan harus temuin langsung Chef yang nantinya bakal jadi juri. Janjianlah di KFC Pemuda dan sisi sotoy diri ini ngira Pemuda itu di daerah Balai Kota padahal lebih dekat dari Simpang 5. Naik BRT dari Tembalang turun ke Balai Kota lanjut Simpang 5 tapi ga nemu juga malah muter ke Balai Kota lagi. Alhasil telat janjian sama Chefnya. Untung Chef ngga keberatan nunggu lama dan yang lebih baiknya lagi dianter pulang ke Tembalang :).

Nah kenapa ini bisa kejadian karena tips bertanya  tidak diterapkan hahhahaha.
 
3. Rute kadang berubah dan halte kadang hilang  atau nambah
    Cerita sedikit sebelum BRT beroperasi lagi di rute Tembalang (wilayah kampus) tahun-tahun sebelum 2017 sempat berhenti beroperasi lalu meskipun tahun sebelumnya lagi BRT pernah ada di Tembalang misal halte bekas jejaknya yang ada di depan Taman Rusa FPP (sekarang udah dibongkar). Per hari ini (Senin 17/8/2020) halte yang terdekat dari kampus tinggal Rusunawa dan Polines padahal sebelumnya masih lebih dekat kalo naik dari Taman Rusa. Perubahan lain halte transit, dulu baik dari arah menuju maupun meninggalkan daerah Kagok transit di halte Elizabeth, sekarang dipecah jadi 2 yaitu di Kagok untuk tujuan Terboyo, Simpang 5 sementara transit Elizabet kalo kita kembali dari daerah Terboyo atau Simpang 5.

Sejauh ini perubahan mengarah ke positif dan makin membaik. Hal yang sama juga dengan banyaknya halte yang ditambah atau direnovasi menjadi semakin besar dan mampu menampung lebih banyak penumpang. Kalo diperhatikan trendnya masyarakat makin banyak yang memilih transportasi umum khususnya BRT ini. Yah catatannya masih sama sih, kurangnya kedisipilinan para penumpang. Kadang petugas sampai teriak-teriak dan tegur karena penumpang yang lebih milih berdesak-desakan dibanding duduk manis menunggu dan mendengar bus akan datang hmmmm.

Please be kind for each other, yes ofc we can :)

4. Asik buat keliling semarang, seringnya ke Kota Lama
    Salah satu tagline BRT Trans Semarang "Ayo Keliling Semarang" secara rute iya bisa tapi belum pernah berkesempatan buat coba rute-rutenya terutama ke lokasi-lokasi wisata. Lokasi paling sering dikunjungi masih Kota Lama wkwkwkw entahlah karena suka segala yang berbau lampau dan klasik jadi rasanya selalu pengen ke Kota Lama. Selain lokasi wisata BRT juga memadai untuk para penumpang yang ingin bepergian dengan kereta atau pesawat. Rute ke St. Poncol atau St. Tawang dan bandara. Cuma ya itu, sebaiknya perhatikan waktu keberangkatan kereta/pesawat jika memilih berangkat dengan BRT karena BRT belum bisa tepat waktu jadi kalo ketinggalan bus bisa nunggu agak lama sebelum dpaat bus berikutnya ditambah rutenya yang kebanyakan muter-muter jadi lama di jalan.

yang pasti kalo mau murah dan ga ngejar waktu banget, BRT-an bisa lah dicobaaa

6. BRT is my best partner for everywhere, especially as a moda to Katedral Church
    Banyak lagi sih manfaat di BRT ini yang bantu banget memudahkan perjalanan, terutama sejak tahu Gereja Katedral Semarang haltenya lebih dekat gereja dibandingkan Gereje St. Athanasius Karangpanas. Lebih jauh memang ke Katedral dari Semarang tapi buat kenyamanan pribadi lebih suka Misa di Katedral (lagi-lagi mungkin karena faktor historis dan bangunannya yang kuno). Manfaat besar lain adalah sebagai teman PKL hahhaaa, jadi lokasi PKL letaknya di Ungaran, Kab. Semarang otomatis harus naik 2x pertama BRT dari halte Taman Rusa-Tembalang lanjut Trans Semarang Tembalang-SMA N 1 Ungaran. Begitu terus pulang-pergi setiap Senin-Sabtu dari pagi pulang sore. Waktu berangkat BRT biasanya pkl. 6.00 dan berakhir sekitar pkl 19.00 jadi bisa diandalkan para pelajar maupun karyawan.

Tambahan-tambahan :
*BRT punya aplikasi namanya Trans Semarang yang bisa digunain buat pantau bus kapan datang dan jam-jam berangkat berikutnya

*Ramah bagi difabel, anak-anak, lansia, orang sakit dan wanita hamil. Terima kasih untuk para petugas yang sepenuh hati mengusahakan tempat duduk para mereka yang lebih diprioritaskan.

*Harapan ke depannya semoga jumlah bus makin banyak dan semakin tepat waktu

Selasa, 14 Juli 2020

Apakah Malas Ada Obatnya? -Penyebab sakitnya-

M --A --L --A --S

-Untuk diri ini di hari ini, tahun 2020, tahun ke-4 di Semarang dan tentang malas yang dirunut dari tahun-tahun sebelumnya-

Sebelum bahas tentang malas, berdasarkan pengalaman pribadi dan fenomena yang dialami orang banyak akhirnya bisa kumpulin dulu beberapa pertanyaan :
Kenapa orang bisa malas? Apakah malas datang tiba-tiba? Apakah malas punya manfaat? Apakah aku lagi malas? Jawaban untuk pertanyaan terakhir, iya. Untuk itu tulisan ini dibuat. Diri ini udah merasa malas akut mungkin sejak akhir semester 6 dan berlanjut  di semester 8, hello hari ini menuju semester 9 :( . Hal yang pasti menjadi malas sangat-sangat ga nyaman. Kasian si malas, selalu jadi kambing hitam.Oke coba kita bedah.

Menurut Medsen (2018) malas bisa diartikan sebagai keadaan seseorang yang tidak bertindak sesuai dengan yang diharapkan karena kendali pada diri sendiri terutama merujuk pada upaya yang dilakukan individu tersebut.

Malas khususnya pada fase yang lagi dialami mahasiswa bisa disebabkan beberapa hal (Bella et al., 2018):
  • Mahasiswa memasuki tahap kematangan dan kemandirian dari masa remaja ke masa dewasa, perlu pola yang tepat untuk menghadapi transisi menuju dewasa ini dan seringkali dalam proses transisi itu ada kejenuhan,  kejenuhan sebabkan kemalasan semisal malas belajar.
  • Motivasi kurang, dosen kurang atau tidak kolaboratif dan penyampaian materi membosankaner
  • Pengaruh pergaulan

Awal mula dan Nekat

Malas dalam arti semalas-malasnya. Malas yang awalnya terbangun dari malas-malas kecil lalu makin lama menggunung dan rasanya susah sekali untuk kembali produktif. Kalau menurut Bella (Bella et al., 2018) bisa jadi iya, terutama di poin 1 dan 2. Bahas poin 1, gua ngga pernah menyadari sebelumnya kalo gua lagi malas tapi faktanya memasuki semester 6 ada kewajiban di semester itu untuk ambil makul seminar proposal/sempro. Mahasiswa udah harus mikirin judul penelitian apa, dibuat dalam proposal resmi dan diseminarkan. Kalau mundur semester sebelumnya sebenernya performa belajar gua juga udah menurun, mungkin karena sibuknya organisasi, lomba-lomba dan kegiatan-kegiatan lain di luar akademik. TAPI semua itu bukan hal yang menyebabkan gua malas tapi pelarian dari malasnya gua belajar di akademik. Puncak akademik gua selama 4 tahun ini adalah menyelesaikan skripsi dan sempro adalah salah 1 dari 3 bagian penting menuju sarjana (steps: Sempro>Sidang PKL>Sidang Akhir). Gua ngga semangat memasuki semester 6 ini, kuliah kelas biasa masih ada, praktikum masih ada dan alasan yang masih bikin betah sepertinya cuma kegiatan2 luar akademiknya aja. Tapi saat itu gua belum menyadari itu, gua biarin aja ngalir sambil beberapa kali nekat.


Tugas-tugas kelompok dari zaman semester 1 dikerjain bareng-bareng, jadi gua cukup fokus sama bagian gua aja tapi sempro ini beda. Semua bergantung ke diri sendiri, mau apa, mau digimanain dan ga bisa lagi bergantung sama orang lain. Gua masih malas menemukan tema penelitian yang jelas lebih malas dan ga tertarik sama tema mainstream yang diambil sekelasan bahkan seangkatan, yaitu pemupukan. Ga tau diri emang, udah males males males aja teros. Tapi waktu juga yang nantangin, mau males sampe kapan dan setelah undian giliran maju sempro, gua kebagian di minggu ke-6. Singkatnya ada tawaran dari temen kelas yang dosbingnya minta gantian kloter karena suatu hal. Entah kesambet dari mana gua nawarin diri gantiin dia dengan kondisi belum ngerjain draft apapun. Kalo diambil gua jadi maju ke-5. Sederhananya gua mikir ini kalo ga coba nekat gua ga akan mulai-mulai harus ada cambukan dulu. Adalah waktu 3 mingguan gua coba riset sendiri dan belum sama sekali nemuin dosbing utama minimal basa-basi nongol ke ruangannya pun belum dan basa-basi bukan gaya gua banget (walaupun di depan gua tahu ternyata terkadang itu perlu, seperlunya). 2 minggu berhasil buat draft proposal penuh tentang perlindungan tanaman yang fokusnya buat menurunkan saerangan hama ulat pada sayuran kubis merah/kol ungu. Minggu ke-3 alias H-1 maju gua datang ke dosbing utama dan entah kenapa rasanya dosbing kurang dukung ditambah gua yang terkesan mepet datang ke dia. Maaf dan terimakasih banyak banyak Pak!
Bisa juga seminar diburu-buru


Mulai Malas (Lagi)

Times goes by dan gua balik lagi ke diri gua yang malas. Ini udah di semester 7, sibuk non-akademik udah ga sebanyak tahun sebelumnya dan karena memang udah masanya buat angkatan ke-3 demiss. Kecuali lomba, kegiatan organisasi pun udah makin berkurang dan gua ga bisa jadikan sebagai 'pelarian' kalo malas akademik lagi. Semester 7 ambil makul PKL dan KKN, entah kenapa gua ya, ga seaktif dan ga sespaneng teme-temen angkatan gua yang all prepared banget dari sebelum KKN dan abis KKN udah rencanain mau PKL dimana, ngurus surat-suratnya dan lain-lain. Keajaiban Tuhan aja gua bisa ngebut urus berkas-berkas dan nemu perusahaan hidroponik di Kabupaten Semarang dalam waktu sebulan. Mulai kegiatan PKL Agustus dan berakhir November pertengahan. Nah kalo dipikir sekarang, di sini lah titik gua mulai malas lagi. Idelanya gua udah mikirin keberlanjutan penelitian dari sempro gua juga, tapi gua memilih menunda dan "ah entar aja, entar aja" begitu seterusnya. Boro-boro nyicil laporan PKL, waktu gua isi dengan nontonin YouTube sampe mabok dan makan jajan pokonya jadi boros. Ga heran temen-temen gua setiap liat gua selalu bilang gendutan. Waktu tersisa kalo mau ngejar sidang PKL di semester 7 tinggal 2 bulan. Sebenernya bisa aja kalo ngebut tapi lagi-lagi gua ga melakukan itu. 

Diam-diam si malas udah gerogorin gua dan jadi merasa semakin nyaman dengan malas, ya karena udah terbiasa. Kayanya ga ada per-drakoran, per-aktoran dan artis-artis gaje yang gua ga tau. Di kamar belasan jam dengan HP bener-bener bikin gua lupa waktu. Tapi pikiran sadar gua selalu bilang "laporan PKL belum dikerjain", "penelitian mau dimana", "2020 harus lulus" dan tentunya si hati nurani terusan berontak di kepala gua (abstrak sih sebenernya dia, lebih tepat disebut sbg mekanisme dari otak perasaan). Gua kadang tersadar semu itu cuma kalo malem ga bisa tidur dan bosan main HP yang pada akhirnya bikin gua jadi susah tidur berhari-hari sampai berbulan-bulan.

Temen-temen gua satu per satu sidang, termasuk sahabat gua. Ternyata untuk bangun dari malas ga cukup dari diri kita sendiri tapi penting juga terbuka ke orang dan bisa jadi merekalah yang bantu kita bangkit lagi. Entah ada kepikiran apa, salah satu sahabat gua datang tiba-tiba ke kosan, ga biasanya dia dadakan. Ga biasanya juga gua bohong kalo emang temen-temen pada rencana dateng, parahnya hari-hari sebelum itu gua selalu menghindar kalo temen gua mau ajak main dan sahabat gua ke kosan. Bukan karena lagi sibuk tapi karena ga mau aja  mereka tahu kalo gua lagi bingung dan malas.

Terima kasih lagiiiii lah buat sahabat gua yang peka ini. Macem drama dan film juga dia dateng malem-malem pas ujan sambil bawa kantong  Indomaret isinya es krim favorit gua dan susu kotak. Ngobrol-ngobrol kaya biasa dan dia nanya gua udah gimana sama laporan PKL dan UP (Usulan Penelitian). Gua bilang ga tau dan lagi malas aja entah kenapa. Di situlah gua jujur bercerita tentang perasaan gua, kebingungan gua, sampe susah tidur dan paling habisin waktu makan dan main HP. Alhasil gua yang sangat cengeng dan sensitif ini ga mungkin bisa nahan air mata. Ga tahu lagi kalo sahabat gua ga dateng mungkin gua bakal belom sidang PKL Februari 2020 dan beruntung banget bisa barengan sama dia. Emang sahabat itu mahal banget dan kita ga pernah tahu sebegitu berharganya dia di hidup kita. Tulus banget. 

PKL selesai, 2 bagian udah terlewati dan tingga garap Usulan Penelitian untuk skripsi. Apakah gua udah ga malas? Masih ternyata. 

//mau apa pun alasannya, yang pasti, malas bisa muncul dari kebiasaan sering menunda//

Itu tadi pengalaman kemalasan gua dan kalo dikaitkan ke faktor penyebab malas maka bisa disimpulin terjadi karena kebiasaan menunda, kurang motivasi dari diri sendiri dan ga coba cari solusi dan merasa jenuh difase transisi menuju dewasa.
Dua dari temen gua di sini udah ada yang wisuda btw wkwkkwk


Ada temuan yang menarik dari 3 poin penyebab malas di atas, ini kata Teori Bronfrenbrenner: perilaku seseorang (termasuk malas) tidak berdiri sendiri melainkan berasal dari dampak dan interaksi orang yang bersangkutan dengan lingkungan di luarnya.

Faktor lain penyebab malas yaitu seseorang tidak percaya diri dengan potensi dan kemampuan dirinya.

Jadi bisa disimpulkan penyebab malas bisa dibagi jadi 2:
  1. Internal: tidak ada motivasi, kelelahan
  2. External: lingkungan pergaulan alat komunikasi
Udah 2/3, tinggal sedikit lagi tapi kenapa lagi-lagi masih malas ?
Bersambung....

Pustaka:

Medsen, T. 2018. The conception  of laziness and the characterisation of others as lazy. Human Arenas, (1) : 288 - 304.

Bella et al.  ga nemu lg jurnalnya dimana, sorry.


Kamis, 13 Februari 2020

APRESIASI- Butuh?

apresiasi/ap·re·si·a·si/ /aprésiasi/ n 1 kesadaran terhadap nilai seni dan budaya; 2 penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu; 3 kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang itu bertambah;

Menurut KBBI Apresiasi bisa diartikan juga sebagai penghargaan terhadap sesuatu. Sesuatu  bisa banyak hal dan paling sering sesuatu yang patut diapresiasi itu adalah prestasi. Kemarin, (Rabu 12/02/2020) saya seperti biasa melihat story WA yang kebetulan terpampang story seorang kawan. Di sana muncul screenshoot file dari rektorat (?) berisi daftar mahasiswa penerima dana reward, apresiasi bagi para mahasiswa yang telah mengikuti lomba dan menyumbang harum nama Undip. Saya sendiri tersenyum. Wah dapat lagi nih. Si kawan yang kirim story juga tertera namanya disana, ikut LKTI dan raih juara 3. Tim saya juga ikut LKTI November 2019 lalu dan juara. Scroll atas-bawah, ga nemu nama sendiri di file itu. Yahh, entah kenapa lagi kali ini..

Perlakuan "apresiasi" lain yang saya rasa beda lagi. Seperti rutinitas akun-akun baik BEM atau pun Himpunan, biasanya memposting tim-tim yang telah mengikuti dan menang suatu ajang, termasuk perlombaan baik LKTI, olahraga, konferensi dan lain sebagainya. 3 hari setelah event LKTIN Ujiversitas Jember, kami sudah beritahu ke BEM Fakultas untuk publikasi. Direspon baik memang, tapi tak kunjung dipublikasikan. 2 minggu berlalu, sebulan hingga terlupakan. Bukan mau pamer tapi apa kabar baik (Juara I umum dan menang kategori Best Poster) tidak cukup patut diapresiasi?

Himpunan tempat bernaung pun sama saja, keduanya malah. Hah sudahlah. Apa pun yang sudah kalian jelaskan tetap saja perlakuan ini tidak sedap rasanya.

Berpikir ulang tentang makna apresiasi, Tidak perlu mengharap pada apresiasi orang lain, mulai saja dari diri 
sendiri. Berarti tetap butuh? Tentu butuh. Apa lagi yang patut dihadiahkan pada diri sendiri, tim atau kelompok sendiri kalau bukan memulai dari sudut terkecil tadi- diri sendiri.

Apresiasi yang besar, marak dipublikasi sana-sini hingga hadiah barang dan uang tunai, anggap saja bonus. Namanya juga bonus, didapat disyukuri, tidak pun tak masalah. Fokus saja terus berkarya dan apapun bentuk apresiasinya nikmati saja :)

Senin, 03 Februari 2020

2020: Kerasa Ga Kerasa, KULIAHHH hampir selesai

"Harusnya segera diselesaikan, entah kenapa tugas besar (red: Skripsi) ini terasa masih mager diselesaikan"

Sejujurnya bingung mau cerita dari mana, sama siapa, dimana. Banyak orang yang ragu dijadikan tempat yang tepat untuk bercerita, dan yang jauh lebih sulit adalah apa yang bisa jadi alternatif untuk bisa mengisahkan bagian dari diri yang sedang tidak baik-baik saja.

Walaupun blog ini bukan platform favorit lagi, tapi aku berterima kasih karenanya. Tidak penting siapa yang harus tahu dan mungkin perasaan ini bisa saja dialami banyak orang. Kita mulai.

Semester delapan, selamat datang. Masih bulan Februari ditanggal 3, hari Senin, hari yang disenangi atau paling banyak dibenci orang. Masih ada 14 hari lagi sebelum waktu resmi masuk perkuliahan semester genap. Tapi buat mahasiswa akhir, tidak ada waktu masuk resmi yang pasti. Sebisa mungkin dan sedapat mungkin dosen ditemui maka itu adalah waktu-waktu yang harusnya bisa dimanfaatkan. Harusnya...

Lihat aku hari ini. Pertemuan pertama kembali dengan dosen pembimbing utama, Selasa 14 Januari 2020. Setelah 1 semester lebih tak lagi konsultasi, terakhir ya pas bimbingan revisi seminar proposal, Juni 2019. Ya, itu adalah keberanian dan ketenangan diriku yang paling bisa dikumpulkan. Setelah banyak anak-anak seperbimbingan mendorong bertanya "Ta, dicariin Pak ini" "Tak tadi kamu ditanyain Pak ini, kapan konsul katanya". Yahh sebelum yang lain-lain, terima kasih masih mengingat dan mengingatkanku. Kalian baik.

Tapi, tolonglah hargai juga setiap proses yang orang lalui, ga mungkin akan sama dengan kalian. Kita dengan cara dan kecepatan kita masing-masing. Ini bukan tentang siapa yang duluan, siapa yang menang dan tidak menang, semuanya adalah pemenang.

Semoga bait-bait ini bisa jadi penenang dan untuk mengenang

Coba Saja
Oktaviana Limbong

Coba saja aku ikuti yang biasa
Coba saja aku langsung terima
Coba saja idealismeku bisa digeser lagi
Coba saja aku bisa lebih menangkan iba

Mungkin, akan banyak mungkin
Mungkin aku tak lagi bingung
Mungkin ada baiknya ikuti arus saja
Mungkin tak akan gelisah

Menolak ragu-ragu
Memastikan pun ragu-ragu
Istirahat yang bermuara lalai
Lalai pada sang waktu

Hingga hari ini,
Dua minggu enam hari berlalu,
sejak pertemuan pertama dengan sang Guru

Hingga bulan ini,
Dua bulan lebih semenjak itu, aku banyak lalai

C U K U P
Tak perlu lagi kata sesal
Tak ada yang diuntungkan kerenanya
Hei kawan,
 kutahu kalian sudah dua atau hampir tiga tahap mendahuluiku
Tak perlu tunggu aku

karena,
Sebaik-baiknya, sehangat-hangatnya
kita pernah atau sedang bersahabat
Ego kita berpeluang lebih besar
untuk prioritaskan diri sendiri

Tak apa, sungguh
Aku pun mungkin akan begitu
Doakan dan senyumi saja aku disini
Kita sama-sama selesaikan tanggung jawab ini

Tentu, iya, kumohon,
dengan cara dan kecepatan terbaik kita masing-masing
Kau dan aku tak perlu saling debat
Kita sama-sama hebat

Biar 'andai dan coba-coba' tadi
tak perlu lagi jadi bahan
Kita nikmati prosesnya kawan

Karena,
 yang tahu sebaik-baiknya diri kita sendiri
adalah
Tuhan dan diri kita sendiri
Percayalah

03.02.2020

*sang Guru : sang Guru adalah metafora untuk dosen pembimbing/dosbing