Kamis, 22 Desember 2016

My New Day in Semarang

Awal-awal di Semarang
 

When we were just arrived at Achmad Yani International Airport 😍

     Aku ada di belakang mereka (jadi tukang foto) wkwkwkkw. Hari itu hari Minggu, 24 Juli 2016. Kali kedua aku, bapak dan Elsa ke Semarang. Sebelumnya, 31 Mei 2016 kami udah ke kota lumpia ini untuk daftar ulang. Jam masih menunjuk di arah 9:28, tapi panasnya ampun dahhh panas banget! Tiap orang bawa dua tentengan, total ada 6 tapi belum sama barang di bagasi pesawat. Lumayan lama nunggu sampai koper nongol. Kami lalu bergegas naik taksi. Peraturannya harus beli tiket dulu di loket, jadilah bapak balik lagi beli tiket. Tujuan hari itu adalah ke kostan yang udah jauh-jauh hari dipesan. Alamatnya Jalan Timoho W No. X Kel.Y, Kec. Z. Berguna banget cari kostan di www.tembalangonline.com. Perjalanan kalau lancar dari bandara ke Tembalang ke Semarang waktu tempuhnya 30 menit, dan biar lancar lebih baik lewat jalan tol. Info dari kakak-kakak di Semarang tarif taksi sekitar 85 ribu tapi itu belum ditambah uang tol, jadi ya kisaran 100 ribu. Sesekali bapak ajak ngobrol si pak supir dan dijawab seperlunya oleh si pak supir. Aku juga kadang nanya-nanya aja walau ga penting juga sebenernya pertanyaannya 😜 sementara Elsa lebih banyak asyik sama  HPnya. Arahan dari pak kos bilang nanti dari bundaran Undip masuk ke arah rusunawa, ya aku tau rusunawa. Waktu daftar ulang kami sempat tanya-tanya syarat buat tinggal di rusunawa. Rusunawa kependekan dari Rumah Susun Sederhana Sewa. 

    Kami akhirnya tiba di kost, namanya Wisma Az.... Ga begitu sulit ditemukan karena letaknya persis paling ujung jalan. Kami diisambut Pak Sus, bapak yang bakal jadi bapak kosku. Pak Sus bantuin juga turunin barang dari taksi. Kami pilih kamar di lantai satu. Pak Sus bilang kamar yang bakal ditempati masih sedang dibersihkan, jadi sementara kami taro barang di kamar nomor 15 dulu. Kami bertiga memutuskan makan dulu. Kata Pak Sus di depan ada, berhubung hari Minggu jadi warung makan yang buka sedikit. Akhirnya kami nemu warung makan namanya warung makan Ibu Ngatini yang sampai sekarang masih jadi langganan spesial makan malam dan saat-saat paling kelaparan (kalo ga ada sama sekali warung makan yang buka Ibu Ngatini pasti buka!). Masakannya ala masakan rumah kebanyakan. Aku makan pakai tempe bacem sama sayur dan es teh, Elsa juga sementara bapak milih makan mi. Satu hal yang unik di Semarang kalau diperhatikan banyak warung makan yang modelnya sama, baik bentuk dan warna catnya. Ciri khasnya bertuliskan Good Day, ya kopi Good Day yang punya banyak rasa untuk harimu itu 😄...

   Selepas tu (ala Upin Ipin) kami balik ke kos. Karena panas kami duduk sambil ngobrol di teras. Ga lama Pak Sus datang dan jadi ngorol bareng. Pak Sus tanya bapak tugas di mana, what? wkwkwkwkk Pak Sus kira bapak tentara. Pak Sus malah ga percaya pas bapak bilang kerjanya bertani. Pangula do bapa nami dabah... (our father just a nice farmer :D). Banyak lagi yang kami perbincangkan dan kebanyakan aku udah lupa. 

   Pak Sus lalu mempersilahkan kami untuk memasuki kamar. Di kamar sederhana itu udah ada kamar mandi dalam, lemari dan tempat tidur ukuran besar. Barang-barang masih ditaro seadanya dulu. Bapak balik hari itu juga, rencananya sore pukul 6. Sebelum ke bandara bapak mandi dulu sementara kami jalan-jalan di sekitar kos. Bapak lalu kasih uang buat hidup di Semarang untuk beberapa bulan ke depan. Taksi yang sama dengan taksi yang mengantar kami ke sini sudah menunggu. Tinggal beberapa langkah lagi sebelum Bapak masuk, Bapak bilang, "jangan nangis" walau sebetulnya dia sendiri yang mulai berkaca-kaca menatap kami. Entah kenapa aku yang biasa paling melow justru lebih kuat. Aaaaaaaa he must gone! 

    Hari-hari berikutnya di Semarang seperti mulai lagi dari segala hal yang tadinya kalian alami menjadi sesuatu yang harus ditaklukkan lagi. Aku harus beradaptasi dengan panasnya  Semarang, udara, orang-orang dan lingkungan Semarang. Bersyukur banget punya pengalaman udah hidup pindah-pindah dari zaman belum TK, aku bisa menyesuaikan dengan cepat. Sering temanku curhat tentang perasaan mereka pertama kali merantau, masih homesick katanya. Bersyukur lagi karena aku waktu SMA udah "merantau" di Bogor. Ternyata segala sesuatu hal itu terjadi memang ada maksudnya. Sepahit dan setidakmampunya kita saat-saat itu adalah pelajaran dan kekuatan kita untuk melalui saat-saat sulit hari ini. I thought that's the important one. Sebuah perjuangan tentang pencapaian cita-cita dan keberlanjutan menautkan harapan baru saja dilanjutkan. SEMARANG, kota jelajahanku selanjutnya.....