Senin, 17 Agustus 2020

BRT (Bus Rapid Transit) Semarang dan Per-Nyasarannya


MERDEKA!!!! Hari ini Indonesia memperingati hari bersejarah istimewanya, HUT RI ke 75. Tapi ngga ada korelasi langsung sebenarnya antara Hari Merdeka dengan BRT hehehee. Kecuali mau dibuat-buat, semoga transportasi umum yang layak, nyaman dan memudahkan aktivitas masyarakat semakin banyak dan tanpa henti berinovasi untuk semakin baik.

Ini adalah kumpulan pengalaman pribadi sebagai pengguna transportasi yang umum di Semarang yaitu BRT Trans Semarang. Sejak awal berkuliah di Semarang udah tahu sekilas tentang BRT dan tahun 2017 akhirnya coba sendiri ke Semarang bawah dengan BRT yang punya ciri khas warna merah ini (pernah biru juga ding). Moda trasnportasi umum di kota Semarang cukup beragam seperti angkot, ojek, bus, travel dan yang masih sangat dapat diandalkan untuk berkeliling Semarang adalah BRT. BRT sendiri beroperasi hanya antar kota Semarang dan sebagian daerah Kabupaten Semarang (Ungaran). Saudara sesama moda trasnportasi umum yang lain adalah Trans Jateng. 

Kemajuan teknologi ga memungkiri membuat pilihan transportasi juga bergeser bahkan nyaris menghilangkan salah satu dari transportasi umum tadi. Masih ingat jelas awal-awal kuliah angkot Kuning dan Merah adalah transportasi wajib hampir ke semua lokasi-lokasi penting misal ke kampus, belanja ke ADA Swalayan, ke gereja Karangpanas dan kadang-kadang ojek pengkolan. Sekarang angkot dan ojek pengkolan mau ga mau ditinggalkan karena pilihan lebih efisien dengan ojek online. BRT dan Trans Jateng ternyata masih bertahan dan bisa dibilang hampir ngga terlalu bepengaruh. Patut dibanggakan juga adalah Kota Semarang menerima penghargaan dari Kemendagri dalam inovasi trasnportasi umum pada 22 Juni 2020 lalu. Lalu apa yang membuat BRT jadi salah satu pendukung keberhasilan tersebut? Beberapa pengalaman ini bisa jadi jawabannya.


1. Pertama kali naik BRT tujuan Gramedia Balai Kota, main ke Mall Paragon
    Sebagai penumpang kita diberikan pilihan dan kemudahan dalam membayar tiket. Khusus pelajar dana mahasiswa cukup bayar Rp1000-, iya serebu perakkk dan buat karyawan sama lansia bisa bayar Rp2000,- dengan menunjukkan KTM/KTPelajar (pelajar dan mahasisawa), Kartu BPJS (karyawan) dan KTP (lansia). Ini cuma berlaku hari kerja Senin-Sabtu aja karena hari Minggu dan tanggal merah tarifnya normal jadi Rp3.500,-.

Kemudahan lain yaitu kita bisa bayar cash atau pake kartu BRT yang sebelumnya udah diisi saldo dan sebagai pengguna BRT hampir 3 tahun ini BRT bertumbuh seiring perkembangan zaman semisal bayar cashless dengan OVO atau Gopay. Perubahan lain yaitu penggunaan tiket BRT dari yang semula kertas buram warna abu-abu kemerahan, putih dan hijau desain seadanya (warna tiket berbeda tergantung tujuan) hingga tiket sekarang lebih sederhana dengan warna putih bergambar wajah wali kota (agak angkat alis yaaa, what is it for? Campaign?)

Perlu diperhatikan kalau jalur BRT itu jarang ada yang langsung ke tujuan jadi harus transit sekali atau lebih. Misal tujuan Gramedia Balai Kota maka dari halte Polines naik arah BRT Unnes >> transit Kagok >> naik arah Terboyo >> turun di halte Balai Kota. Tingga jalan sedikit di sebelah halte terletak Gramedia Balaikota di dalam Hote Amaris sementara Mall Paragon letaknya ga jauh dari halte cukup jalan sekitar 30 meter.

2. Nyasar (masih berupaya mengingat)
    Hampir ga kehitung berapa kali nyasar selama naik BRT tapi untuk pengalaman pertama pas bablas sampai terminal Terboyo. Kejadiannya hari Minggu abis pulang Misa, awalnya cuma pengen sampe Balai Kota tapi ketiduran dan bangun-bangun udah ga tahu dimana LOL. Makin lama makin sedikit penumpang dan mas ticketing nanyain mau turun di mana, dengan PD jawab, "saya di halte terakhir aja mas, mau jalan-jalan hehhehe" padahal mah malu aja bilang nyasar wkwkwkwk. Tips kalo nyasar, segera turun dan naik bus lagi karena walaupun bus yang sama dengan kita pergi akan muter arah sebaliknya dan ke tujuan awal lagi penumpang wajib bayar lagi. Wajib selalu bertanya ke petugas semisal mau ke daerah yang belum pernah didatengin sebelumnya karena mereka bakal kasih tahu rutenya. Sepengalaman pribadi para petugas ticketing dan supir profesional dan ramah. Pengalaman dijutekin mbak petugas pernah bahkan dimodusin+dimintain nomor telepon juga pernah HAHAHHA.

Baru-baru ini menyaksikan sisi lain dari petugas BRT terkait pendisiplinan para penumpang di masa pandemi Covid-19. Ga terkecuali BRT harus menyesuaikan operasional dengan protokol kesehatan semisal jarak aman antar penumpang dengan kelang-kelang kursi dibongkar maupun holder. Pemicu masalah adalah ketidaksabaran penumpang yang memaksakan diri masuk padahal udah dibatasi oleh petugas. Petugas langsung emosi dan marah-marah, ga tanggung-tanggung yang dimarahi ibu-ibu tua dan bapak-bapak ya dukung mbaknya sih karena buat kebaikan juga. Duh semoga selalu disiplin ya kita----

Nyasar berikutnya adalah waktu jadi penanggung jawab salah satu event masak di kampus dan harus temuin langsung Chef yang nantinya bakal jadi juri. Janjianlah di KFC Pemuda dan sisi sotoy diri ini ngira Pemuda itu di daerah Balai Kota padahal lebih dekat dari Simpang 5. Naik BRT dari Tembalang turun ke Balai Kota lanjut Simpang 5 tapi ga nemu juga malah muter ke Balai Kota lagi. Alhasil telat janjian sama Chefnya. Untung Chef ngga keberatan nunggu lama dan yang lebih baiknya lagi dianter pulang ke Tembalang :).

Nah kenapa ini bisa kejadian karena tips bertanya  tidak diterapkan hahhahaha.
 
3. Rute kadang berubah dan halte kadang hilang  atau nambah
    Cerita sedikit sebelum BRT beroperasi lagi di rute Tembalang (wilayah kampus) tahun-tahun sebelum 2017 sempat berhenti beroperasi lalu meskipun tahun sebelumnya lagi BRT pernah ada di Tembalang misal halte bekas jejaknya yang ada di depan Taman Rusa FPP (sekarang udah dibongkar). Per hari ini (Senin 17/8/2020) halte yang terdekat dari kampus tinggal Rusunawa dan Polines padahal sebelumnya masih lebih dekat kalo naik dari Taman Rusa. Perubahan lain halte transit, dulu baik dari arah menuju maupun meninggalkan daerah Kagok transit di halte Elizabeth, sekarang dipecah jadi 2 yaitu di Kagok untuk tujuan Terboyo, Simpang 5 sementara transit Elizabet kalo kita kembali dari daerah Terboyo atau Simpang 5.

Sejauh ini perubahan mengarah ke positif dan makin membaik. Hal yang sama juga dengan banyaknya halte yang ditambah atau direnovasi menjadi semakin besar dan mampu menampung lebih banyak penumpang. Kalo diperhatikan trendnya masyarakat makin banyak yang memilih transportasi umum khususnya BRT ini. Yah catatannya masih sama sih, kurangnya kedisipilinan para penumpang. Kadang petugas sampai teriak-teriak dan tegur karena penumpang yang lebih milih berdesak-desakan dibanding duduk manis menunggu dan mendengar bus akan datang hmmmm.

Please be kind for each other, yes ofc we can :)

4. Asik buat keliling semarang, seringnya ke Kota Lama
    Salah satu tagline BRT Trans Semarang "Ayo Keliling Semarang" secara rute iya bisa tapi belum pernah berkesempatan buat coba rute-rutenya terutama ke lokasi-lokasi wisata. Lokasi paling sering dikunjungi masih Kota Lama wkwkwkw entahlah karena suka segala yang berbau lampau dan klasik jadi rasanya selalu pengen ke Kota Lama. Selain lokasi wisata BRT juga memadai untuk para penumpang yang ingin bepergian dengan kereta atau pesawat. Rute ke St. Poncol atau St. Tawang dan bandara. Cuma ya itu, sebaiknya perhatikan waktu keberangkatan kereta/pesawat jika memilih berangkat dengan BRT karena BRT belum bisa tepat waktu jadi kalo ketinggalan bus bisa nunggu agak lama sebelum dpaat bus berikutnya ditambah rutenya yang kebanyakan muter-muter jadi lama di jalan.

yang pasti kalo mau murah dan ga ngejar waktu banget, BRT-an bisa lah dicobaaa

6. BRT is my best partner for everywhere, especially as a moda to Katedral Church
    Banyak lagi sih manfaat di BRT ini yang bantu banget memudahkan perjalanan, terutama sejak tahu Gereja Katedral Semarang haltenya lebih dekat gereja dibandingkan Gereje St. Athanasius Karangpanas. Lebih jauh memang ke Katedral dari Semarang tapi buat kenyamanan pribadi lebih suka Misa di Katedral (lagi-lagi mungkin karena faktor historis dan bangunannya yang kuno). Manfaat besar lain adalah sebagai teman PKL hahhaaa, jadi lokasi PKL letaknya di Ungaran, Kab. Semarang otomatis harus naik 2x pertama BRT dari halte Taman Rusa-Tembalang lanjut Trans Semarang Tembalang-SMA N 1 Ungaran. Begitu terus pulang-pergi setiap Senin-Sabtu dari pagi pulang sore. Waktu berangkat BRT biasanya pkl. 6.00 dan berakhir sekitar pkl 19.00 jadi bisa diandalkan para pelajar maupun karyawan.

Tambahan-tambahan :
*BRT punya aplikasi namanya Trans Semarang yang bisa digunain buat pantau bus kapan datang dan jam-jam berangkat berikutnya

*Ramah bagi difabel, anak-anak, lansia, orang sakit dan wanita hamil. Terima kasih untuk para petugas yang sepenuh hati mengusahakan tempat duduk para mereka yang lebih diprioritaskan.

*Harapan ke depannya semoga jumlah bus makin banyak dan semakin tepat waktu