Kamis, 13 Februari 2020

APRESIASI- Butuh?

apresiasi/ap·re·si·a·si/ /aprésiasi/ n 1 kesadaran terhadap nilai seni dan budaya; 2 penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu; 3 kenaikan nilai barang karena harga pasarnya naik atau permintaan akan barang itu bertambah;

Menurut KBBI Apresiasi bisa diartikan juga sebagai penghargaan terhadap sesuatu. Sesuatu  bisa banyak hal dan paling sering sesuatu yang patut diapresiasi itu adalah prestasi. Kemarin, (Rabu 12/02/2020) saya seperti biasa melihat story WA yang kebetulan terpampang story seorang kawan. Di sana muncul screenshoot file dari rektorat (?) berisi daftar mahasiswa penerima dana reward, apresiasi bagi para mahasiswa yang telah mengikuti lomba dan menyumbang harum nama Undip. Saya sendiri tersenyum. Wah dapat lagi nih. Si kawan yang kirim story juga tertera namanya disana, ikut LKTI dan raih juara 3. Tim saya juga ikut LKTI November 2019 lalu dan juara. Scroll atas-bawah, ga nemu nama sendiri di file itu. Yahh, entah kenapa lagi kali ini..

Perlakuan "apresiasi" lain yang saya rasa beda lagi. Seperti rutinitas akun-akun baik BEM atau pun Himpunan, biasanya memposting tim-tim yang telah mengikuti dan menang suatu ajang, termasuk perlombaan baik LKTI, olahraga, konferensi dan lain sebagainya. 3 hari setelah event LKTIN Ujiversitas Jember, kami sudah beritahu ke BEM Fakultas untuk publikasi. Direspon baik memang, tapi tak kunjung dipublikasikan. 2 minggu berlalu, sebulan hingga terlupakan. Bukan mau pamer tapi apa kabar baik (Juara I umum dan menang kategori Best Poster) tidak cukup patut diapresiasi?

Himpunan tempat bernaung pun sama saja, keduanya malah. Hah sudahlah. Apa pun yang sudah kalian jelaskan tetap saja perlakuan ini tidak sedap rasanya.

Berpikir ulang tentang makna apresiasi, Tidak perlu mengharap pada apresiasi orang lain, mulai saja dari diri 
sendiri. Berarti tetap butuh? Tentu butuh. Apa lagi yang patut dihadiahkan pada diri sendiri, tim atau kelompok sendiri kalau bukan memulai dari sudut terkecil tadi- diri sendiri.

Apresiasi yang besar, marak dipublikasi sana-sini hingga hadiah barang dan uang tunai, anggap saja bonus. Namanya juga bonus, didapat disyukuri, tidak pun tak masalah. Fokus saja terus berkarya dan apapun bentuk apresiasinya nikmati saja :)

Senin, 03 Februari 2020

2020: Kerasa Ga Kerasa, KULIAHHH hampir selesai

"Harusnya segera diselesaikan, entah kenapa tugas besar (red: Skripsi) ini terasa masih mager diselesaikan"

Sejujurnya bingung mau cerita dari mana, sama siapa, dimana. Banyak orang yang ragu dijadikan tempat yang tepat untuk bercerita, dan yang jauh lebih sulit adalah apa yang bisa jadi alternatif untuk bisa mengisahkan bagian dari diri yang sedang tidak baik-baik saja.

Walaupun blog ini bukan platform favorit lagi, tapi aku berterima kasih karenanya. Tidak penting siapa yang harus tahu dan mungkin perasaan ini bisa saja dialami banyak orang. Kita mulai.

Semester delapan, selamat datang. Masih bulan Februari ditanggal 3, hari Senin, hari yang disenangi atau paling banyak dibenci orang. Masih ada 14 hari lagi sebelum waktu resmi masuk perkuliahan semester genap. Tapi buat mahasiswa akhir, tidak ada waktu masuk resmi yang pasti. Sebisa mungkin dan sedapat mungkin dosen ditemui maka itu adalah waktu-waktu yang harusnya bisa dimanfaatkan. Harusnya...

Lihat aku hari ini. Pertemuan pertama kembali dengan dosen pembimbing utama, Selasa 14 Januari 2020. Setelah 1 semester lebih tak lagi konsultasi, terakhir ya pas bimbingan revisi seminar proposal, Juni 2019. Ya, itu adalah keberanian dan ketenangan diriku yang paling bisa dikumpulkan. Setelah banyak anak-anak seperbimbingan mendorong bertanya "Ta, dicariin Pak ini" "Tak tadi kamu ditanyain Pak ini, kapan konsul katanya". Yahh sebelum yang lain-lain, terima kasih masih mengingat dan mengingatkanku. Kalian baik.

Tapi, tolonglah hargai juga setiap proses yang orang lalui, ga mungkin akan sama dengan kalian. Kita dengan cara dan kecepatan kita masing-masing. Ini bukan tentang siapa yang duluan, siapa yang menang dan tidak menang, semuanya adalah pemenang.

Semoga bait-bait ini bisa jadi penenang dan untuk mengenang

Coba Saja
Oktaviana Limbong

Coba saja aku ikuti yang biasa
Coba saja aku langsung terima
Coba saja idealismeku bisa digeser lagi
Coba saja aku bisa lebih menangkan iba

Mungkin, akan banyak mungkin
Mungkin aku tak lagi bingung
Mungkin ada baiknya ikuti arus saja
Mungkin tak akan gelisah

Menolak ragu-ragu
Memastikan pun ragu-ragu
Istirahat yang bermuara lalai
Lalai pada sang waktu

Hingga hari ini,
Dua minggu enam hari berlalu,
sejak pertemuan pertama dengan sang Guru

Hingga bulan ini,
Dua bulan lebih semenjak itu, aku banyak lalai

C U K U P
Tak perlu lagi kata sesal
Tak ada yang diuntungkan kerenanya
Hei kawan,
 kutahu kalian sudah dua atau hampir tiga tahap mendahuluiku
Tak perlu tunggu aku

karena,
Sebaik-baiknya, sehangat-hangatnya
kita pernah atau sedang bersahabat
Ego kita berpeluang lebih besar
untuk prioritaskan diri sendiri

Tak apa, sungguh
Aku pun mungkin akan begitu
Doakan dan senyumi saja aku disini
Kita sama-sama selesaikan tanggung jawab ini

Tentu, iya, kumohon,
dengan cara dan kecepatan terbaik kita masing-masing
Kau dan aku tak perlu saling debat
Kita sama-sama hebat

Biar 'andai dan coba-coba' tadi
tak perlu lagi jadi bahan
Kita nikmati prosesnya kawan

Karena,
 yang tahu sebaik-baiknya diri kita sendiri
adalah
Tuhan dan diri kita sendiri
Percayalah

03.02.2020

*sang Guru : sang Guru adalah metafora untuk dosen pembimbing/dosbing