Mau Jadi Apa?
...............
Waktu kecil pertanyaan wajib yang dilontarkan orang dewasa kepada kita adalah : "kalau udah besar kamu mau jadi apa?" atau "kamu cita-citanya apa?" Waktu kecil kita mudah sekali menjawab semudah ditanya pilihan mau es krim apa coklat dan entah kenapa sepanjang waktu berjalan cita-cita itu jadi sesuatu yang abstrak. Ngga semua orang sih, nyatanya ada juga yang berhasil ingat, menjaga dan mengupayakan cita-cita masa kecilnya lalu berhasil dicapai ketika dewasa. Atau mungkin ada yang lebih banyak lagi yang sebaliknya, termasuk aku. Dari kecil sangat sangat ingin jadi guru, lalu menjelang SMA berganti haluan menjadi pengusaha kopi-alasan utama akhirnya memilih jurusan pertanian di bangku perkuliahan. Masalahnya hari ini diri ini ragu dengan cita-cita tersebut, dipicu banyak khawatir juga dengan kekhawatiran-kekhawatiran lain makin tambahlah bingung besok mau jadi apa.
Kilas balik lagi nanya ke diri sendiri apa yang disuka, apa yang sekiranya bisa dicoba dan diupayakan. Apa iya alasan dulu masuk Pertanian sama sekali ngga bisa diupayakan? Entahlah.....
Yang jelas saat ini aku udah punya cita-cita lain, jadi Editor Buku. Setidaknya setelah lulus S1 ini aku pastikan bakal mendaftar ke perusahaan penerbit terbesar di Indonesia, Gramedia. Menurut kualifikasi salah satunya calon pelamar bisa berasal dari segala jurusan dan yang utama berkeinginan keras bekerja dan mencintai buku. Hoaaaa I love that :)
Sebenarnya termasuk telat buat menyadari "salah jurusan" setelah jalanin 4 tahun kuliah di Pertanian, tapi yang pasti ngga akan pernah ada kata terlambat untuk buat impian, upgrade impian maupun remove impian sebelumnya lalu temukan impian lain yang baru. Apakah menyesal udah sejauh ini mendalami Pertanian tapi bercita-cita di luar bidangnya? Awalnya iya, tapi setelah dipikir lagi bukan merasa "menyesal"nya yang penting tapi nilai-nilai apa yang udah didapat selama kuliah di Pertanian, bahkan mungkin relevan juga di bidang lain. Nilai-nilai bermanfaat yang didapat selama belajar Pertanian misalnya, kesabaran, tekad, jalin relasi dan komunikasi, dan yang pasti selalu berpikir kritis lewat langkah-langkah ilmiah. Jabarannya ini:
-Kesabaran, sabar menunggu dan merawat tanaman tumbuh. Sabar yang lain misalnya menunggu balasan asisten praktikum dan sabar draft belasan kali hingga laporan di-ACC.
-Tekad, dulu waktu masa-masa "budak laprak" udah pasti harus dapat sitasi dari jurnal. Mau materinya gampang atau susah ngga ada alasan ngga nemu sitasi, apa pun dilakukan demi sitasi. LOL.
-Relasi dan komunikasi, pengerjaan laporan praktikum dilakukan berkelompok di hampir semua mata kuliah. Relasi yang baik antar anggota kelompok wajib dijaga kalo ngga mau sikut-sikutan (minimal diem-dieman dalam kelompok) dan berujung laporan terhambat. Selain itu akan ada giliran salah satu dari anggota yang jadi penghubung untuk kontak asisten. Asisten adalah segalanya setelah dosen jadi jalin dan cara komunikasinya harus baik.
-Berpikir kritis lewat langkah-langkah ilmiah, yang pasti karena dasar ilmu Pertanian adalah Sains jadi apapun harus dicari dulu kerangka berpikir dan metode ilmiahnya gimana. Ngomong A ditambah data begitu seterusnya. Lucu sih kalo pas ngumpul bareng teman-teman terus nyeletuk "halahh kata siapa?" terus dijawab asal sama teman yang lain "menurut Bambang et al. 2018 bla bla" HAHAHAHAA
Menurut penelusuran Tirto (https://tirto.id/quarter-life-crisis-kehidupan-dewasa-datang-krisis-pun-menghadang-dkvU) anak-anak muda beralih pekerjaan atau pun impiannya bukan karena mereka ga mampu berkomitmen, tapi komitmen merekalah yang berbeda dengan tujuan mencari makna hidup, mengejar kebahagiaan dan bentuk dari kebebasan.
Simpulannya sementara ini memilih untuk tidak banyak khawatir tentang hari esok, karena hari esok masih punya kekhawatirannya sendiri sambil mengupayakan jalan-jalan kecil untuk menuju impian, apa pun bentuk impian itu nanti.
**Impian terdekat: LULUS, KERJA, PULANG BENTAR

Tidak ada komentar:
Posting Komentar