"Harusnya segera diselesaikan, entah kenapa tugas besar (red: Skripsi) ini terasa masih mager diselesaikan"
Sejujurnya bingung mau cerita dari mana, sama siapa, dimana. Banyak orang yang ragu dijadikan tempat yang tepat untuk bercerita, dan yang jauh lebih sulit adalah apa yang bisa jadi alternatif untuk bisa mengisahkan bagian dari diri yang sedang tidak baik-baik saja.
Walaupun blog ini bukan platform favorit lagi, tapi aku berterima kasih karenanya. Tidak penting siapa yang harus tahu dan mungkin perasaan ini bisa saja dialami banyak orang. Kita mulai.
Semester delapan, selamat datang. Masih bulan Februari ditanggal 3, hari Senin, hari yang disenangi atau paling banyak dibenci orang. Masih ada 14 hari lagi sebelum waktu resmi masuk perkuliahan semester genap. Tapi buat mahasiswa akhir, tidak ada waktu masuk resmi yang pasti. Sebisa mungkin dan sedapat mungkin dosen ditemui maka itu adalah waktu-waktu yang harusnya bisa dimanfaatkan. Harusnya...
Lihat aku hari ini. Pertemuan pertama kembali dengan dosen pembimbing utama, Selasa 14 Januari 2020. Setelah 1 semester lebih tak lagi konsultasi, terakhir ya pas bimbingan revisi seminar proposal, Juni 2019. Ya, itu adalah keberanian dan ketenangan diriku yang paling bisa dikumpulkan. Setelah banyak anak-anak seperbimbingan mendorong bertanya "Ta, dicariin Pak ini" "Tak tadi kamu ditanyain Pak ini, kapan konsul katanya". Yahh sebelum yang lain-lain, terima kasih masih mengingat dan mengingatkanku. Kalian baik.
Tapi, tolonglah hargai juga setiap proses yang orang lalui, ga mungkin akan sama dengan kalian. Kita dengan cara dan kecepatan kita masing-masing. Ini bukan tentang siapa yang duluan, siapa yang menang dan tidak menang, semuanya adalah pemenang.
Semoga bait-bait ini bisa jadi penenang dan untuk mengenang
Semoga bait-bait ini bisa jadi penenang dan untuk mengenang
Coba Saja
Oktaviana Limbong
Coba saja aku ikuti yang biasa
Coba saja aku langsung terima
Coba saja idealismeku bisa digeser lagi
Coba saja aku bisa lebih menangkan iba
Mungkin, akan banyak mungkin
Mungkin aku tak lagi bingung
Mungkin ada baiknya ikuti arus saja
Mungkin tak akan gelisah
Menolak ragu-ragu
Memastikan pun ragu-ragu
Istirahat yang bermuara lalai
Lalai pada sang waktu
Hingga hari ini,
Dua minggu enam hari berlalu,
sejak pertemuan pertama dengan sang Guru
Hingga bulan ini,
Dua bulan lebih semenjak itu, aku banyak lalai
C U K U P
Tak perlu lagi kata sesal
Tak ada yang diuntungkan kerenanya
Hei kawan,
kutahu kalian sudah dua atau hampir tiga tahap mendahuluiku
Tak perlu tunggu aku
karena,
Sebaik-baiknya, sehangat-hangatnya
kita pernah atau sedang bersahabat
Ego kita berpeluang lebih besar
untuk prioritaskan diri sendiri
Tak apa, sungguh
Aku pun mungkin akan begitu
Doakan dan senyumi saja aku disini
Kita sama-sama selesaikan tanggung jawab ini
Tentu, iya, kumohon,
dengan cara dan kecepatan terbaik kita masing-masing
Kau dan aku tak perlu saling debat
Kita sama-sama hebat
Biar 'andai dan coba-coba' tadi
tak perlu lagi jadi bahan
Kita nikmati prosesnya kawan
Karena,
yang tahu sebaik-baiknya diri kita sendiri
adalah
Tuhan dan diri kita sendiri
Percayalah
03.02.2020
*sang Guru : sang Guru adalah metafora untuk dosen pembimbing/dosbing
Tidak ada komentar:
Posting Komentar